Mengenang Mawet Siregar, Pencipta lagu “Kau yang Ada di Hati”

Suaranya Tetap Bergema

Editor: Gokma Siregar
Foto Almarhum Mawet Siregar (Penyanyi dan Pencipta Lagu)

ADA duka yang mendalam ketika sebuah perjalanan seni harus berhenti tiba-tiba—tepat saat semangat masih berkobar dan rencana-rencana besar sedang menanti. Begitulah yang kini dirasakan oleh siapa saja yang mengenal sosok, karya, dan cita-cita Mawet Siregar.

Pencipta lagu kenangan “Kau yang Ada di Hati” dan “Boru Sibaen Sangap” ini telah pergi untuk selamanya, meninggalkan ambisi besar yang belum sempat terwujud sepenuhnya dan selembaran karya yang belum tuntas digarap sekaligus ingin mendirikan studio mini recording .

Perjalanan hidup dan berkaryanya terputus di tengah jalan. Bakatnya sebagai penyanyi yang berjiwa serta pencipta lagu yang peka merasakan kehidupan, belum sempat mekar sepenuhnya sesuai harapan yang ia rajut selama ini, karena takdir berkata lain.

Setelah menjalani masa perawatan terakhir dengan penuh ketabahan mulai dari RS Primaya Bekasi Utara hingga ke RSUD Kota Bekasi, ia akhirnya berpulang pada 13 Maret 2026 dengan membawa serta sisa-sisa mimpi yang belum sempat ia wujudkan.

Duka ini terasa semakin mendalam bagi keluarga yang dicintainya. Mawet Siregar meninggalkan belahan jiwa yang paling berharga: istri tercinta yang selalu mendampinginya, serta tiga putri kecil yang masih membutuhkan kasih sayang dan bimbingan ayah mereka.

Di usia yang masih belia, Mawet Siregar kelahiran Jakarta 25 November 1989 yang punya nama lengkap Mawet Artha Hendrico Siregar ini, kini kehadiran dan pelukannya sebagai seorang ayah menjadi kenangan yang harus mereka simpan rapat-rapat dalam hati.

Meskipun sosoknya telah tiada dan ambisinya terhenti oleh batas waktu yang tak terduga, ada satu hal yang tak akan sirna begitu saja. Suara dan jiwa seni Mawet Siregar tetap hidup. Lewat lagu-lagu yang pernah ia ciptakan dan nyanyikan, pesonanya terus bergema, berbicara lewat nada dan kata-kata yang menyentuh sanubari.

Lagu “Kau yang Ada di Hati” dan “Boru Sibaen Sangap” serta karya-karyanya yang lain menjadi warisan abadi, jembatan rindu yang menghubungkan kenangan kepergiannya dengan siapa saja yang mendengarkannya.

Kini, Mawet Siregar mantan personil Maxima Trio ini telah beristirahat dengan tenang di TPU Padurenan Kota Brkasi. Namun, setiap kali nada lagunya terdengar, seolah-olah Mawet Siregar masih hadir—menyampaikan pesan bahwa meski perjalanan fisiknya telah selesai, karyanya akan terus diingat, didengar, dan dicintai selamanya.

Semoga keluarga yang ditinggalkan diberikan kekuatan dan ketabahan yang tak terhingga oleh Tuhan Yang Maha Pengasih. Dan semoga karya sang pencipta terus menjadi penghibur hati, mengingatkan bahwa seni sejati tak pernah benar-benar berakhir. (*)