CIKARANG, MEDIASI.COM – Dewan Pimpinan Cabang (DPC) PDI Perjuangan Kabupaten Bekasi menggelar Haul Bung Karno ke-56 sebagai bagian dari rangkaian Bulan Bung Karno 2026. Kegiatan yang berlangsung di Kantor DPC PDI Perjuangan Kabupaten Bekasi diisi dengan tasyakuran, yasinan, tahlil, doa bersama, serta refleksi perjuangan Presiden pertama Republik Indonesia, Ir. Soekarno.
Acara tersebut merupakan kelanjutan dari kegiatan yang sebelumnya dilaksanakan bersama komunitas Petani Gotong Royong (PGR) di Desa Karangmekar, Kecamatan Kedungwaringin, Kabupaten Bekasi, yang bertajuk Petani Penggerak Gotong-royong, yang turut dihadiri Siswadi, SH selaku pembicara dan Ustaz Jejen dan pada 6 Juni 2026.
Puncak haul digelar pada 21 Juni 2026 bertepatan dengan momentum wafatnya Bung Karno. Tahlil dan doa bersama dipimpin Ketua Dewan Masjid Indonesia (DMI) Kabupaten Bekasi, sementara tausiyah dan doa dipandu oleh KH Soleh Jaelani, Wakil Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Bekasi yang juga Wakil Ketua DPC PDI Perjuangan Kabupaten Bekasi Bidang Keagamaan dan Kerohanian.
Dalam kesempatan tersebut, Sekretaris DPC PDI Perjuangan Kabupaten Bekasi yang juga Wakil Ketua DPRD Kabupaten Bekasi dari Fraksi PDI Perjuangan, Usup Supriatna, S.IP, menegaskan bahwa Haul Bung Karno bukan sekadar mengenang wafatnya sang proklamator, tetapi menjadi momentum untuk mewarisi nilai-nilai perjuangan yang telah diwariskan kepada bangsa Indonesia.
“Ini adalah rangkaian Bulan Bung Karno. Dimulai dari 1 Juni sebagai Hari Lahir Pancasila, 6 Juni Hari Lahir Bung Karno, dan 21 Juni sebagai hari wafatnya Bung Karno. Yang paling penting adalah bagaimana kita mewarisi api perjuangan beliau untuk Indonesia,” ujar Usup.
Menurutnya, Bung Karno merupakan tokoh besar yang lahir pada 6 Juni 1901 di Surabaya dan menjadi salah satu pendiri bangsa yang memproklamasikan kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945 bersama Mohammad Hatta. Selama hidupnya, Bung Karno dikenal sebagai pemimpin visioner yang berhasil mempersatukan keberagaman suku, agama, dan budaya dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Usup menjelaskan bahwa setelah memimpin Indonesia sejak awal kemerdekaan, Bung Karno wafat pada 21 Juni 1970 di Jakarta. Namun, gagasan dan semangat perjuangannya tetap hidup hingga saat ini.
“Haul Bung Karno bukan hanya mengenang wafatnya sang proklamator, tetapi bagaimana kita mewarisi perjuangan dan semangat beliau dalam mempersatukan Indonesia. Semangat itu harus terus hidup di tengah masyarakat,” katanya.
Dalam refleksi kebangsaan yang disampaikannya, Usup juga mengulas pemikiran Bung Karno tentang Marhaenisme, sebuah ideologi yang lahir dari perjumpaan Bung Karno dengan seorang petani kecil bernama Marhaen di Bandung pada masa penjajahan.
Dari pertemuan tersebut, Bung Karno melihat bahwa rakyat kecil Indonesia bukanlah kaum proletar seperti yang digambarkan dalam teori Barat, melainkan rakyat yang memiliki alat produksi sederhana namun tetap hidup dalam kemiskinan dan keterbatasan. Karena itu, Bung Karno menjadikan Marhaen sebagai simbol perjuangan rakyat kecil, seperti petani, nelayan, buruh, pedagang kecil, dan kelompok masyarakat yang tertindas oleh ketidakadilan ekonomi.
“Marhaenisme mengajarkan keberpihakan kepada wong cilik, kepada rakyat kecil. Karena itu kader PDI Perjuangan harus selalu hadir bersama rakyat, mendengar keluhan mereka, dan memperjuangkan kepentingan mereka,” tegas Usup.
Ia menambahkan, di tengah kondisi ekonomi nasional yang saat ini menghadapi berbagai tantangan, semangat gotong royong dan keberpihakan kepada rakyat kecil harus terus diperkuat sebagaimana yang diajarkan Bung Karno.
Menurutnya, seluruh elemen bangsa harus menjaga persatuan dan mengedepankan kebersamaan dalam menghadapi berbagai persoalan bangsa.
“Ketika ekonomi sedang menghadapi tantangan, maka yang dibutuhkan adalah semangat gotong royong, persatuan, dan keberpihakan kepada rakyat kecil. Itulah warisan terbesar Bung Karno yang harus terus kita jaga,” ujarnya.
Usup juga mengingatkan seluruh kader PDI Perjuangan agar tidak melupakan akar ideologis partai yang berpijak pada ajaran Bung Karno. Kader, katanya, harus menjadi pelayan rakyat dan menjaga semangat nasionalisme, kemanusiaan, serta keadilan sosial dalam kehidupan sehari-hari.
Melalui peringatan Haul Bung Karno ke-56 ini, DPC PDI Perjuangan Kabupaten Bekasi berharap nilai-nilai perjuangan, Marhaenisme, dan semangat gotong royong yang diwariskan Bung Karno dapat terus menjadi inspirasi dalam membangun bangsa dan memperjuangkan kesejahteraan rakyat Indonesia.
Kegiatan Haul Bung Karno tersebut, turut dihadiri para tokoh agama, Pengurus DPC, PAC PDI Perjuangan Kabupaten Bekasi, Anggota Fraksi DPRD Fraksi PDI Perjuangan Kabupaten Bekasi, bersama kader partai (pir)
Baca koranmediasi.com untuk mendapatkan berita aktual, baik lokal maupun nasional. Disajikan secara tegas, lugas, dan berimbang.
