Lagi, Pelaksanaan Proyek Pembangunan Pedestrian Rp7,3 Miliar Rusak Pipa Gas

BEKASI, MEDIASI.COM – Lagi, pelaksanaan proyek pembangunan pedestrian dan taman di kawasan Kota Bekasi justru menjadi bencana bagi masyarakat. Pekerjaan bernilai miliaran rupiah ini dinilai tidak profesional dan lalai, terbukti aktivitas penggalian merusak pipa gas. Sebelumnya juga pernah merusak pipa distribusi air bersih milik Perumda Tirta Patriot.

Insiden yang merusak fasilitas vital ini terjadi di dua titik berbeda namun memiliki akar masalah serupa. Pertama, di kawasan pertigaan Grand Mall, Kelurahan Kayuringin Jaya, Kecamatan Bekasi Selatan, Jumat (29/5/2026) sekitar pukul 15.00 WIB. Di lokasi ini, satu unit ekskavator bernomor lambung SY55C yang sedang menggarap proyek saluran air di bawah naungan Dinas Bina Marga dan Sumber Daya Air (DBMSDA) Kota Bekasi, diduga kurang teliti saat melakukan penggalian.

Lengan alat berat tersebut secara tidak sengaja menghantam pipa gas yang tertanam di bawah tanah. Akibat benturan keras, pipa tersebut pecah dan gas menyembur tinggi ke udara dengan tekanan kuat, sempat menghebohkan pengguna jalan dan warga sekitar jalur protokol tersebut. Yang lebih disayangkan, begitu menyadari perbuatannya, operator ekskavator beserta pekerja lainnya justru melarikan diri meninggalkan lokasi, membiarkan alat berat tertinggal begitu saja.

Sebelumnya, kerusakan serupa terjadi pada pelaksanaan proyek pembangunan pedestrian dan taman di Jalan Nangka Raya, Kecamatan Bekasi Barat. Proyek yang dikerjakan oleh PT. Mawany Inti Karya ini memiliki nilai kontrak mencapai Rp7.378.448.703,00, bersumber sepenuhnya dari Anggaran Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kota Bekasi dengan nomor kontrak 620.01/10.0053.1/SP/DBMSDA-BM/2026/62040908.

Akibat kelalaian penggalian kontraktor ini, pipa air bersih milik Perumda Tirta Patriot saat itu rusak parah. Humas Perumda Tirta Patriot, Rizki membenarkan kejadian tersebut dan menyatakan panjang pipa yang rusak mencapai sekitar 12 meter.

Menurutnya, berdasarkan hasil pengecekan di lapangan, kerusakan yang terjadi murni disebabkan aktivitas penggalian kontraktor pelaksana proyek. Namun kali ini bukan pipa air bersih tapi pipa gas.

“Itu yang rusak pipa gas bang,” kata Rizki, Jumat (29/5/2026).

Situasi di lapangan sempat menimbulkan kepanikan dan kemacetan ringan akibat banyaknya warga yang penasaran melihat semburan yang sangat tinggi. Keprihatinan mendalam juga datang dari warga setempat. Menurut warga, anggaran proyek yang mencapai angka tujuh miliar rupiah justru tidak diimbangi dengan kualitas kerja dan kehati-hatian yang memadai. Hal ini memicu kemarahan dan kekecewaan masyarakat.

Masyarakat menilai pelaksana proyek bekerja sembarangan tanpa melakukan pemetaan jalur utilitas bawah tanah terlebih dahulu. Warga pun mendesak Pemerintah Kota Bekasi melalui Dinas Bina Marga dan Sumber Daya Air untuk mengevaluasi kinerja kontraktor dan memperketat pengawasan di lapangan. (*)

Exit mobile version