Lomba Batu Giok “Tembak Air” Ramaikan Bekasi Selatan, Uji Kualitas Lewat Metode Unik

BEKASI, MEDIASI.COM – Suasana Gedung MIMBA, Perumnas 2, Kelurahan Kayuringin Jaya, Bekasi Selatan, tampak ramai pada Minggu (12/4/2026). Ratusan penggemar batu akik, khususnya batu giok, memadati lokasi untuk mengikuti sekaligus menyaksikan perlombaan unik bertajuk “batu tembak air”.

Kegiatan ini merupakan ajang kedua yang digelar oleh komunitas pecinta batu giok, setelah sebelumnya sukses dilaksanakan di wilayah Jatiasih. Panitia pelaksana menyebut, tingginya antusiasme masyarakat menjadi alasan utama kegiatan kembali digelar di lokasi berbeda.

“Ini sudah yang kedua kali. Pertama di Jatiasih, dan hari ini di Bekasi Selatan. Tujuannya bukan hanya lomba, tapi juga memberikan edukasi kepada masyarakat tentang kualitas batu giok,” ujar salah satu panitia di lokasi.

Selain sebagai ajang kompetisi, kegiatan ini juga menjadi sarana mempererat silaturahmi antar komunitas. Sejumlah peserta dan pengunjung datang dari berbagai daerah, seperti Setu, Pasar Minggu, hingga Bogor.

Perwakilan komunitas dari luar daerah menyebutkan, lomba ini juga menjadi media promosi agar masyarakat lebih mengenal batu giok, baik dari sisi keindahan maupun nilai ekonominya.

“Ajang seperti ini bagus untuk memperkenalkan batu giok ke masyarakat luas. Sekaligus mempertemukan para kolektor dan penghobi,” ujar salah satu peserta.
Yang menarik, metode penilaian dalam lomba ini tergolong tidak biasa. Batu giok yang dilombakan dimasukkan ke dalam gelas berisi air, lalu ditembak menggunakan alat khusus oleh juru tembak.

Juru tembak, Firman Cevi, menjelaskan bahwa kualitas batu ditentukan dari ketahanannya terhadap tembakan tersebut.

“Kalau ditembak lalu batu atau gelasnya pecah, berarti kualitasnya kurang bagus. Tapi kalau tetap utuh dan air tidak tumpah, itu menandakan batu tersebut berkualitas,” jelasnya.

Lebih lanjut, penilaian juga dilihat dari seberapa besar perubahan posisi batu di dalam gelas serta jumlah air yang berkurang setelah tembakan dilakukan.

“Dari situ kita ukur, berapa sentimeter pergeseran batu dan berapa banyak air yang berkurang. Itu yang jadi dasar penilaian dalam kompetisi ini,” tambah Firman.

Dengan konsep yang unik dan edukatif, lomba ini tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga membuka wawasan masyarakat mengenai cara menilai kualitas batu giok secara praktis. Panitia berharap kegiatan serupa dapat terus digelar secara rutin dan menjangkau lebih banyak daerah di masa mendatang. (TG H. GIBSON SIRAIT SH)